Belajar P2P Lending, Fakta dan Tip Terbaik untuk Memulainya

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Belajar P2P Lending, 5 Fakta ini Harus Benar Diperhatikan

Belajar P2P, sebagai salah satu instrumen investasi yang menguntungkan, sekarang jadi banyak dibutuhkan. Seiring dengan meningkatnya tingkat literasi keuangan, kebutuhan untuk tahu lebih banyak apa saja produk keuangan yang bisa kita manfaatkan juga menjadi bertambah.

Jika kamu sudah belajar saham, reksa dana, sampai obligasi, maka sekarang waktunya kamu belajar P2P Lending.

Hadirnya dan berkembangnya financial technology, alias fintech, memang bertujuan untuk memudahkan hidup kita. Termasuk tumbuhnya fintech Peer to Peer Lending, atau yang lebih dikenal sebagai P2P Lending ini.

Tapi, apa itu P2P Lending?

Belajar Reksa Dana Online, Ini yang Harus Diperhatikan!

Pengertian P2P Lending

Mari mulai proses belajar P2P Lending dengan memahami sejak pengertiannya.

Peer to Peer Lending, atau P2P Lending, adalah sebuah platform yang mempertemukan pihak pendana atau pemberi pinjaman dengan mereka yang membutuhkan pinjaman dana. Ibaratnya, kalau marketplace adalah tempat yang mempertemukan pembeli dan penjual, maka P2P ini adalah kreditur dan debitur.

Tapi, mengapa orang harus meminjam di platform P2P Lending? Bukankah sudah ada bank, dan institusi pembiayaan lain seperti leasing dan sebagainya?

Faktanya, banyak pihak yang tidak dapat terlayani dengan baik jika hendak meminjam dana ke lembaga keuangan konvensional, seperti bank. Bank biasanya memiliki berbagai prosedur dan syarat yang cukup spesifik, misalnya minimal pinjaman dana harus nominal ratusan juta, tenor harus panjang, dan seterusnya. Bagi beberapa pihak, para pelaku UMKM misalnya, tidak dapat memenuhi persyaratan ini, padahal mereka membutuhkan suntikan dana untuk tambahan modal menjalankan bisnisnya.

P2P Lending hadir untuk melayani pihak-pihak, baik individu maupun bisnis kecil seperti UMKM, yang bisa mengajukan pinjaman di platform P2P Lending dengan nominal yang relatif kecil, dengan tenor yang relatif pendek. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi mereka yang merasa kesulitan memenuhi syarat pinjaman dana ke bank.

TUToring: Memahami Laporan Keuangan 101

Belajar P2P Lending, Perhatikan 5 Fakta Ini

Belajar P2P Lending itu asyik, karena instrumen ini hadir menjadi salah satu opsi pengembangan dana yang bisa jadi alternatif kita untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Bahkan bukannya tak mungkin, kamu bisa mendapatkan passive income secara relatif teratur karena setiap pinjaman yang kita berikan akan ada imbal hasil berupa bunga.

Kuncinya adalah bisa menentukan siapa yang bisa kita beri pinjaman, dan juga manajemen risiko yang benar. Yuk, ikuti beberapa fakta berikut sebelum lanjut belajar P2P Lending.

1. Keuntungan relatif tinggi

Keuntungan yang ditawarkan di P2P Lending relatif lebih tinggi daripada instrumen lain, bahkan jauh di atas tingkat inflasi.

Biasanya setiap platform memiliki kebijakannya masing-masing dalam hal ini. Karena itu, ada baiknya, kamu mencari informasi secara lengkap terlebih dulu saat belajar P2P Lending. Namun, bisa dikatakan, bahwa rata-rata menawarkan imbal berkisar 18% per tahun. Besaran ini masih dalam batas wajar, karena dalam satu bulan itu artinya bunga 1.5%. Untuk hasil yang lebih maksimal, kamu bisa memperbesar nominal dana yang hendak dipinjamkan, yang sebenarnya bisa dimulai dari Rp100.000, atau bisa juga memilih tenor yang panjang, misalnya 3 tahun.

2. Kenali risiko yang juga relatif tinggi

Dalam belajar P2P Lending, sebaiknya kamu sendiri juga aware, bahwa biasanya jika sebuah instrumen investasi menawarkan imbal hasil yang tinggi, maka risikonya juga tinggi juga. Begitu juga kalau kamu berminat untuk mengembangkan dana di platform fintech ini. Pastikan bahwa kamu sendiri memiliki profil risiko agresif.

Beberapa risiko mengembangkan dana di P2P Lending yang wajib diperhatikan di antaranya:

Peluang terjadinya gagal bayar

Hal ini bisa banget terjadi ketika pihak peminjam tak lancar membayar cicilannya, meskipun dari pihak platform biasanya juga sudah melakukan berbagai prosedur untuk memfilter dan memverifikasi profil para peminjam.

So, dalam belajar P2P, kamu sebaiknya mempersiapkan langkah manajemen risiko jika ini sampai terjadi. Ada beberapa platform P2P Lending yang memberikan jaminan pengembalian dana jika hal ini terjadi, tetapi tidak 100% kembali.

Peluang bangkrut

Ini bisa banget terjadi, kalau kita salah memilih peminjam dana yang ternyata kondisinya kurang baik. Atau, tak hanya terjadi pada pihak si peminjam dana, pihak platformnya sendiri juga bisa berpeluang bangkrut. Karena itu, saat belajar P2P Lending, hal ini pun patut menjadi perhatianmu.

Tak dijamin pemerintah

Dana yang hendak kamu kembangkan melalui P2P Lending tidak akan dijamin oleh pemerintah. Berbeda dengan deposito, misalnya, yang punya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bentukan pemerintah yang akan menjamin danamu tetap aman sampai maksimal Rp2 miliar. Namun, jangan khawatir, karena beberapa platform memberikan jaminan atau asuransi untuk dana pinjamanmu, jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Tak bisa dicairkan di tengah periode

Ketika belajar P2P dan sudah memasukkan dana untuk dipinjamkan dan dikembangkan, maka kamu tak bisa mencairkannya jika belum jatuh tempo. Ini berbeda dengan reksa dana, misalnya, yang bisa saja kamu cairkan kapan pun tanpa kesulitan. So, pastikan kamu menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk dikembangkan, bukan dana yang akan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Belajar P2P Lending, 5 Fakta ini Harus Benar Diperhatikan

Nah, ini yang belakangan cukup meresahkan, yakni semakin tumbuh suburnya platform fintech ilegal alias tipu-tipu yang mengincar korban, tak hanya mereka yang butuh pinjaman, tetapi juga kita yang ingin mengembangkan dana.

Karena itu, ada baiknya kamu selalu cek legalitas platform dengan daftar fintech legal yang sudah terdaftar dan berizin Otoritas Jasa Keuangan.

Belajar P2P Lending, kamu harus paham betul bagaimana caranya membedakan fintech yang legal dan ilegal, karena sebenarnya yang beraksi tipu-tipu ini cukup mudah dikenali kok. Di antaranya:

  • Menawarkan dana atau jasa melalui WhatsApp, SMS, DM, atau jalur pribadi lain.
  • Aplikasinya mengakses ke fitur-fitur smartphone tak hanya kamera, mikrofon, dan lokasi, tetapi juga phone book, galeri, dan yang lainnya.
  • Ketika ditelusuri, mereka tak punya alamat kantor dan identitas yang jelas

So, pastikan untuk selalu hanya memanfaatkan platform P2P Lending yang legal, agar kamu bisa menghindarkan dirimu sendiri dari kerugian yang besar.

Hal lain yang juga harus kamu perhatikan dalam belajar P2P adalah mencermati angka tingkat keberhasilan penyelesaian (TKB) kredit oleh platform yang bersangkutan. Angka ini diverifikasi oleh OJK langsung, dan memberikan gambaran seberapa baik pihak platform dapat memfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam antara kreditur dan debitur dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari terhitung sejak jatuh tempo. Angka yang semakin besar semakin baik. Biasanya angka ini dicantumkan dalam website platform fintech yang bersangkutan.

4. Peminjam yang kredibel

Ketepatan memilih peminjam dana yang kredibel dan dapat diandalkan menjadi kunci sukses mengembangkan dana di P2P Lending. So, sementara kamu belajar P2P, kamu juga wajib mempelajari bagaimana cara memilih peminjam dana yang tepat.

Biasanya, ada profil peminjam yang bisa kamu lihat terlebih dulu sebelum memutuskan hendak meminjamkan dana. Cek hal-hal berikut ini saat belajar P2P:

  • Profil peminjam; siapa dia, atau bisnisnya bergerak di sektor apa, produknya apa
  • Bagaimana historis peminjaman dana sebelumnya
  • Jika pihak peminjam adalah UMKM, biasanya ada semacam proposal atau strategi bisnis yang dilampirkan sehingga kita bisa mendapatkan gambaran pemanfaatan dana pinjamannya.

Akan lebih baik jika kamu meminjamkan dana untuk peminjaman produktif, alih-alih sekadar konsumtif.

Trading Saham Online Modal Kecil? Begini Caranya!

5. Kelola keuangan dengan sangat baik

Kesuksesanmu mengembangkan dana juga akan sangat tergantung pada kelihaianmu mengatur keuangan secara keseluruhan. Yang harus kamu perhatikan saat belajar P2P:

  • Diversifikasikan danamu kepada beberapa peminjam sekaligus, yang tentunya harus disesuaikan dengan modal dan kemampuan finansialmu, agar kalau terjadi gagal bayar di satu peminjam, kamu masih punya peluang mendapat keuntungan dari yang lain.
  • Gunakan dana ‘dingin’ yang memang dialokasikan untuk dikembangkan. Bukan dana kebutuhan sehari-hari dan penting lainnya, bukan juga dana hasil berutang.
  • Pantau terus perkembangannya, supaya jika ada hal-hal yang kurang sesuai, kamu bisa segera membuat langkah antisipasi.

Nah, demikian 5 hal yang harus kamu perhatikan betul saat belajar P2P, demi bisa menghasilkan keuntungan yang optimal. Lalu, kalau mau memulai, kira-kira apa yang harus dilakukan ya?

7 Aplikasi Belajar Saham bagi Pemula, Praktis dan Mudah Dipahami

Tip Memulai P2P Lending

Belajar P2P yang paling bagus ya langsung praktik saja. Meski demikian, ya tetap harus ada pemahaman teori terlebih dulu, seperti yang sudah dijabarkan di atas. Kalau kamu sudah paham, ayo, sekarang lanjut belajar P2P sambil praktik.

Belajar P2P secara praktik bisa kamu mulai dengan mengenali platform-platform yang legal dan sudah berizin OJK. Hal ini penting, sebagai salah satu langkah manajemen risiko investasi yang bisa terjadi. Memang tidak ada penjaminan secara langsung, seperti halnya produk perbankan. Tetapi, dengan sudah berizin OJK, kita jadi tahu, bahwa platform yang bersangkutan sudah memenuhi kriteria yang diminta oleh OJK.

Mulailah dengan modal kecil

Belajar P2P bisa dimulai dengan modal yang kecil, sesuai kemampuan kamu. Sekarang, mayoritas platform P2P Lending memungkinkan pemberi pinjaman mulai dengan modal Rp100 ribu. Cara mulainya juga gampang banget, bahkan bisa disambungkan dengan berbagai dompet digital.

Anggaplah modal awal yang kecil ini sebagai biaya atas belajar P2P yang sedang kamu lakukan. Seiring waktu, kamu bisa menambah modal, sejalan dengan profil risiko yang semakin berkembang.

Lakukan analisis mendalam terhadap (calon) peminjam

Peminjam yang kredibel secara tidak langsung akan ‘menjamin’ suksesnya pengembangan dana yang kamu lakukan melalui P2P Lending. Salah satu ‘calon’ peminjam dana yang biasanya bertanggung jawab dan kredibilitasnya baik adalah UMKM. Tentu saja, tergantung bisnisnya juga. Hal ini harus dipahami saat belajar P2P.

Karena itu, dalam belajar P2P juga perlu untuk melakukan analisis mendalam terkait bisnis dan juga profil calon peminjam dana. Manfaatkan berbagai data yang biasanya sudah disediakan oleh pihak platform, termasuk soal kredibilitas si calon peminjam dana. Dari situ, kamu bisa mendapatkan gambaran, apakah mereka layak untuk menjadi debitur.

Nah, dengan beberapa tip investasi P2P Lending di atas, pastinya sekarang sudah cukup ada gambaran kan kalau memang ingin mengembangkan dana di instrumen ini?

Yang pasti, dalam belajar P2P, nikmatilah setiap prosesnya. Dengan demikian, kamu akan bisa mencatat dan mengingat semua pengetahuan dan pemahaman, baik yang kamu dapatkan dari membaca teori maupun dengan praktik langsung.

Yuk, lanjutkan belajar P2P kamu bersama Ternak Uang!

Daftar di berbagai academy yang ada di Ternak Uang, pilih topik sesuai kebutuhanmu, mulai dari personal finance, investasi, asuransi, hingga crypto.

Bagikan Via

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp