PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) berhasil mendapatkan pinjaman sekitar US$700 juta atau sekitar Rp10,67 triliun dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 dengan kapasitas 55 megawatt (MW).

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Julfi Hadi menyampaikan informasi ini saat menjelaskan kemajuan proyek tersebut kepada Presiden Joko Widodo dan pemimpin negara-negara Asia Tenggara lainnya usai pembukaan Asean Indo-Pacific Forum di Jakarta pada Selasa (05/09).

Pinjaman yang diterima oleh PGEO dari JICA ini bertujuan untuk mendukung upaya mitigasi perubahan iklim di masa depan. Ekspansi proyek PLTP Lumut Balai Unit 2 ini juga merupakan bagian dari strategi PGEO untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik mereka menjadi 1 gigawatt (GW) dalam 2 tahun ke depan melalui ekstraksi tambahan di beberapa lapangan yang ada.

Menurut perhitungan PGEO, sebagai anak perusahaan Grup BUMN Pertamina yang bergerak di bidang panas bumi, masih terdapat potensi tambahan sebesar 340 MW dalam produksi listrik yang dapat dikembangkan. Hal ini akan meningkatkan kapasitas terpasang yang mencapai 672 MW.

Pendanaan ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerja sama dalam bidang engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) untuk konstruksi sistem pengumpulan dan reinjeksi fluida serta PLTP Lumut Balai Unit 2 di Sumatera Selatan.

Proyek ini melibatkan konsorsium Mitsubishi Corporation, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan SEPCO III Electric Power Construction Co. Ltd. Proyek ini akan beroperasi selama 30 tahun dan akan menyuplai listrik ke PT PLN (Persero) dengan potensi melayani 55.000 rumah tangga di Sumatera Selatan.

Kapasitas 55 MW yang dihasilkan dari Unit 2 ini akan menambah total kapasitas terpasang PGEO, yang sebelumnya telah mengoperasikan proyek PLTP Lumut Balai Unit 1 dengan kapasitas 55 MW yang telah beroperasi sejak tahun 2019. Dengan penambahan ini, PGEO akan memiliki total kapasitas terpasang sebesar 727 MW, memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain terbesar dalam pengembangan panas bumi di Indonesia.

Baca Berita Lainnya: Turun 39%, Laba PGN (PGAS) Paruh Pertama 2023 Sisa Rp2,2 T

Saat ini, PGEO mengelola 13 wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan kapasitas terpasang lebih dari 1,8 GW, sekitar 672 MW di antaranya dioperasikan secara langsung oleh PGEO, dan 1.205 MW dikelola melalui kontrak operasi bersama. Kapasitas panas bumi ini berkontribusi sebesar 82% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia dan berpotensi mengurangi emisi CO2 sekitar 9,7 juta ton per tahun.

Presiden Jokowi telah mendorong inisiatif pembiayaan berkelanjutan yang saling menguntungkan untuk mempercepat transisi energi di kawasan Asia Tenggara (Asean) dalam Asean Indo-Pacific Forum di Jakarta. Inisiatif ini bertujuan untuk mengumpulkan dana sekitar Rp449.740 triliun untuk mendukung transisi energi di Asean hingga tahun 2050 dengan target beralih sepenuhnya ke pembangkit listrik terbarukan.

Jokowi berharap negara-negara ASEAN dapat mengembangkan skema pembiayaan yang inovatif melalui kerja sama yang berkelanjutan untuk mendukung program transisi energi ini.

JFA/EFR

Referensi: Bisnis.com