Pemerintah China mengumumkan insentif pajak mobil listrik sebesar CNY520 miliar yang ditujukan untuk mendorong penjualan mobil listrik dan mobil ramah lingkungan lainnya selama 4 tahun ke depan.

Melalui stimulus tersebut, pembelian unit baru mobil listrik pada 2024 dan 2025 akan dibebaskan dari pajak sebesar CNY30 ribu per unit. Sementara pembelian pada 2026 dan 2027 akan mendapat keringanan setengahnya.

Insentif tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan saat ini, di mana kendaraan energi baru terbarukan tidak dikenakan pajak pembelian hingga akhir 2023. Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang China Cui Dong Su menyebut perpanjangan insentif tersebut melebihi ekspektasi pasar.

Langkah pemerintah China untuk memberikan insentif pajak selama 4 tahun kedepan muncul ketika industri otomotif negara tersebut sedang mengalami pelemahan permintaan, yang menimbulkan kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi ke depan.

Penjualan mobil berbahan energi baru terbarukan di China sempat turun sebesar -6,3% (yoy) pada Januari 2023, yang salah satunya dipicu oleh berakhirnya subsidi pembelian mobil listrik. Penjualan kemudian bangkit kembali setelah produsen memangkas harga jual dan pada Mei 2023 tumbuh +10,5% (mom) dan +60,9% (yoy) ke level 1,76 juta unit.

Setelah pengumuman insentif tersebut, harga saham produsen mobil listrik di China mengalami penguatan. Pada Rabu (21/6) saham produsen mobil listrik NIO (HKG: 9866) dan Xpeng (HKG: 9868) meningkat masing-masing sebesar +3,97% dan +2,23%, sementara saham Li Auto (HKG: 2015) menguat sebesar +2,18%.

Baca Berita Lainnya: Volkswagen Bakal Bangun Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Rp75 T di RI

Implikasi: Stimulus Mendorong Penjualan Mobil Energi Baru Terbarukan

TU Research Analyst melihat pada tahun 2021, China menguasai 50% dari total pangsa pasar mobil listrik dunia, dengan porsi mobil listrik sebesar 15% dari total populasi mobil. Stimulus pajak pembelian mobil listrik di China berpotensi mendorong kembali penjualan mobil energi baru terbarukan – termasuk mobil listrik – di negara tersebut.

Kami sendiri memprediksi bahwa penjualan kendaraan listrik di China akan tumbuh +30% pada 2024, meningkat dari perkiraan sebesar +15% pada tahun ini.

Peningkatan penjualan mobil listrik di China berpotensi mendorong kebutuhan material baterai listrik, contohnya nikel. Salah satu emiten yang berpotensi diuntungkan dari kebijakan tersebut adalah Trimegah Bangun Persada (NCKL), di mana anak usahanya PT Halmahera Persada Lygend telah mulai mengekspor nikel sulfat ke China pada bulan ini. Direktur Utama NCKL, Roy A. Arfandy, mengatakan bahwa total pengiriman produk nikel sulfat ditargetkan mencapai 240 ribu ton per tahun.

RMK/EFR

Referensi: cnbcindonesia.com