Kualitas udara di Jakarta yang memburuk akibat polusi terus menjadi perbincangan publik dan menghiasi pemberitaan media massa akhir-akhir ini. Polusi udara berpotensi membuat warga terserang berbagai penyakit kardiorespirasi hingga yang terbaru bisa menyebabkan kematian.

Berdasarkan data IQAir, lembaga kualitas udara asal Swiss ini, polusi udara telah menyebabkan sekitar 8.000 lebih kematian di Jakarta selama tahun 2023. Kematian tersebut diakibatkan terserangnya korban dari berbagai penyakit kardiorespirasi.

Selain itu, polusi udara di Jakarta juga mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar US$2,1 miliar atau setara dengan Rp32 triliun selama periode yang sama. Kerugian tersebut mencakup berbagai hal, mulai dari biaya kesehatan hingga kerusakan lingkungan.

Di sisi lain, sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh organisasi kesehatan global, Vital Strategies, dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang dirilis pada tanggal 27 Februari 2023 memperkirakan bahwa polusi udara di Jakarta berpotensi menyebabkan lebih dari 10.000 kematian dan 5.000 orang harus menjalani perawatan akibat penyakit kardiorespirasi setiap tahunnya.

Selain itu, dampak lain dari polusi udara ini termasuk lebih dari 7.000 hasil buruk pada kesehatan anak-anak dan menimbulkan biaya ekonomi lebih dari US$2,9 miliar atau setara Rp44 triliun setiap tahunnya. Angka tersebut setara dengan 2,2% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno memprediksi kerugian perekonomian negara akibat polusi udara mencapai Rp30 triliun dari berbagai sektor.

“Dampak ekonomi luas, tidak hanya di sektor parekraf bisa cukup besar. Estimasi 20-30 triliun rupiah,” ungkapnya seperti dikutip Liputan6, Senin (21/08).

Selain itu, Wakil Presiden Lingkungan, Iklim, dan Kesehatan Perkotaan di Vital Strategis Sumi Mehta mengatakan polusi udara di Jakarta mengancam kesehatan utama 10,5 juta. Ia menegaskan dampak buruk polusi udara bagi kesehatan sangat jelas dan nyata.

“Polusi udara merupakan ancaman kesehatan utama bagi lebih dari 10,5 juta penduduk Jakarta. Sementara bukti global tentang dampak kesehatan yang merugikan dari polusi udara sudah konsisten dan jelas,” katanya seperti dikutip CNBC Indonesia, Jumat (18/08).

Anies Hingga Jokowi Pernah Digugat

Pada 2019 lalu, Tim Advokasi Gerakan Ibu Kota mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait polusi udara di Jakarta dengan dasar Citizen Law Suit (CLS). Gugatan ini melibatkan 31 warga yang merepresentasikan berbagai profesi dan latar belakang dan menuntut pemerintah untuk mengatasi masalah polusi udara yang semakin buruk di ibukota. 

Mereka menuntut pemerintah untuk menerapkan kebijakan baru dalam mengatasi polusi udara dan mengkritik kelalaian pemerintah dalam mengawasi dan mengendalikan mutu udara.

Beberapa pejabat pemerintah, termasuk Presiden Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi tergugat dalam kasus ini. 

Hasilnya, Presiden Jokowi, Anies Baswedan, dan beberapa pejabat pemerintah dinyatakan bersalah dalam gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas kelalaian dalam mengatasi polusi udara kronis. 

Putusan tersebut mewajibkan presiden untuk menetapkan standar kualitas udara nasional. Sementara menteri kesehatan dan gubernur Jakarta diharuskan menyusun strategi pengendalian polusi udara. Keputusan ini juga menekankan tindakan lanjutan termasuk analisis emisi lintas batas dan pengujian berkala untuk kendaraan yang lebih tua.

Implikasi: Rugi Bisa Kian Membengkak

Kerugian ekonomi akibat polusi udara bisa terus membengkak jika tidak ditangani dengan serius karena adanya efek domino yang merugikan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kerugian tersebut dapat terus bertambah:

  • Kesehatan Masyarakat: Polusi udara dapat menyebabkan peningkatan kasus penyakit pernapasan, penyakit jantung, dan kondisi kesehatan lainnya. Dampak kesehatan ini mengakibatkan lonjakan biaya perawatan medis, obat-obatan, dan perawatan jangka panjang. Jika lebih banyak orang sakit, biaya kesehatan akan terus meningkat.
  • Penurunan Produktivitas: Kualitas udara yang buruk dapat mengurangi produktivitas pekerja karena gejala pernapasan yang mengganggu. Ini dapat menyebabkan absensi, penurunan efisiensi kerja, dan penurunan output produksi. Dampak ini merugikan sektor ekonomi dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
  • Penurunan Daya Tarik Investasi: Daerah yang dikenal dengan polusi udara tinggi dapat kehilangan daya tarik bagi investor dan perusahaan. Ketidakpastian ekonomi dan lingkungan yang tidak sehat dapat mengurangi minat investasi, menghambat pertumbuhan sektor bisnis, dan akhirnya merugikan ekonomi.
  • Kerusakan Lingkungan: Polusi udara dapat merusak lingkungan fisik, termasuk tanaman, lahan pertanian, dan hutan. Ini mengurangi produktivitas sektor pertanian dan perikanan, mengganggu pasokan pangan, dan menyebabkan peningkatan biaya bahan pangan.
  • Krisis Kesehatan dan Tanggapan Darurat: Jika polusi udara mencapai tingkat yang sangat parah, pemerintah harus mengeluarkan dana dalam tanggapan darurat, seperti peningkatan fasilitas medis, distribusi alat pernapasan, dan langkah-langkah lainnya. Ini dapat membebani anggaran dan merugikan ekonomi negara.
  • Biaya Penanganan Masalah: Upaya untuk mengurangi polusi udara melalui regulasi, teknologi, dan investasi memerlukan biaya yang signifikan. Namun, biaya ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kerugian ekonomi yang akan terjadi jika polusi udara dibiarkan terus berlanjut.
  • Pengurangan Pendapatan Pariwisata: Kota/kawasan polusi udara tinggi dapat mengurangi jumlah wisatawan karena kondisi udara yang buruk.

Baca Berita Lainnya: Kerugian Ekonomi Negara Akibat Polusi Udara Capai Rp21,5 T

What To Do: Secepatnya Ambil Aksi Tuntaskan Polusi

Pemerintah perlu mengambil langkah secepatnya untuk bisa mengatasi permasalahan polusi udara. Pemerintah bisa mengambil contoh negara yang memiliki penanganan kualitas udara terbaik di dunia. Salah satu contohnya adalah Norwegia.

Norwegia telah mengambil langkah-langkah serius untuk mengurangi polusi udara dan mendorong transisi ke energi bersih. Beberapa tindakan yang diambil oleh Norwegia antara lain:

  • Penggunaan Energi Bersih: Norwegia sangat bergantung pada energi bersih, terutama energi hidroelektrik. Ini mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi udara yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
  • Transportasi Ramah Lingkungan: Norwegia mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan, seperti mobil listrik. Insentif fiskal dan insentif lainnya telah membuat mobil listrik menjadi pilihan populer di negara ini.
  • Pengelolaan Sampah Efektif: Negara ini memiliki sistem pengelolaan sampah yang efektif, termasuk daur ulang yang luas. Ini membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan dampak lingkungan lainnya.
  • Pembatasan Polusi Udara: Norwegia telah menerapkan aturan ketat terkait emisi polusi udara dari industri dan sektor lainnya, serta membatasi penggunaan kayu bakar yang berkontribusi pada polusi udara.
  • Kesadaran Masyarakat: Kesadaran masyarakat tentang dampak polusi udara telah membantu mendukung langkah-langkah pemerintah dalam mengurangi polusi udara.

JFA/RMK/EFR

Referensi: Dilansir dari berbagai sumber