US Tapering: Pengertiannya dan 3 Persiapan yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghadapinya

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
US Tapering: Pengertiannya dan 3 Persiapan yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghadapinya

Pernah mendengar istilah US Tapering? Barangkali untuk orang awam jarang mendengar istilah ini, namun bagi investor yang sering membaca berita ekonomi pasti familier dengan US Tapering.

Istilah “tapering” di dunia keuangan mulai muncul di 22 Mei 2013. Saat itu, Ketua Federal Reserve Ben Bernanke memberikan pernyataan dalam kesaksian di depan kongres Amerika Serikat bahwa The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) bisa mengurangi ukuran program dari pembelian obligasi yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing (QE).

Baca juga: Belajar Obligasi: 5 Hal Dasar yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Berinvestasi

Adapun pelonggaran ini diberlakukan sebagai upaya merangsang ekonomi untuk sementara. The Fed pun berharap agar program ini bisa membantu bank merasa nyaman untuk memberikan pinjaman lagi.

Masih agak sedikit bingung dengan US Tapering? Tenang, di artikel ini akan dibahas lebih detail tentang pengertian, efek dan persiapan yang bisa dilakukan untuk menghadapinya.

Mengenal US Tapering yang Membawa Efek Meluas ke Perekonomian Global

US Tapering adalah pengurangan stimulus moneter yang dikeluarkan oleh bank sentral ketika perekonomian tengah terancam dan sangat membutuhkan suntikan dana likuiditas. The Fed melakukan hal ini dengan cara mengurangi program pembelian obligasi yang dikenal dengan pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing / QE).

Umumnya, indikator mengukur kapan US Tapering dilakukan adalah saat inflasi tengah mengalami keseimbangan, tingkat pengangguran mulai beranjak normal, hingga pemulihan tingkat kredit yang menunjukkan bahwa ekonomi sudah mulai aktif lagi.

US Tapering sering menjadi momok bagi pelaku pasar keuangan. Bagaimana tidak, berkaca dari tahun 2013, tapering yang dilakukan oleh The Fed sangat mengguncang pasar keuangan saat itu. Indeks saham rontok, return (yield) SUN naik, dan hal mengerikan adalah nilai tukar mata uang kita terus tergerus terhadap dolar AS. Jadi, tidak heran ketika The Fed mengumumkan US Tapering, ada rasa khawatir hal yang sama bakal kembali terulang bagi pelaku pasar dan juga perekonomian global.

8 Tanya Jawab tentang Investasi yang Sering Diajukan oleh Investor Pemula pada Pakar Investasi

US Tapering di Tahun 2021

Di awal tahun 2021, The Fed mengumumkan akan melakukan US Tapering, dan baru dilaksanakan pada bulan November 2021. Komunikasi yang baik ini ternyata memberikan efek positif pada perekonomian global dan juga domestik. Kekhawatiran terjadinya taper tantrum seperti tahun 2013 tidak terjadi.

Salah satu bukti bahwa efek US Tapering kali ini tidak terlalu berimbas besar adalah ketika diumumkan wacana ini oleh Jerome Powell, bos The Fed, harga saham domestik justru mengalami penguatan dan asing pun masih lanjut untuk belanja saham di dalam negeri.

Pola strategi komunikasi inilah yang membuat perbedaan besar antara US Tapering tahun 2013 dan tahun 2021. Di tahun 2013, tak ada angin maupun hujan, tiba-tiba The Fed mewacanakan melakukan US Tapering. Pasar pun kaget dan merespons negatif wacana itu. Beda dengan sekarang strateginya makin matang sehingga Indonesia pun sudah menyiapkan berbagai kebijakan untuk menghadapinya.

Efek US Tapering

Rupiah

Di bulan November 2021, Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh titik level terlemah dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Adapun pengumuman dari kebijakan The Fed ternyata menjadi penggerak utama pasar valas.

Dilansir data dari Refinitiv, Rupiah sempat anjlok menembus angka Rp14.345/US$ atau 0,35%, level itu adalah yang terlemah sejak 30 Agustus 2021.

Meski demikian, efek US Tapering kali ini tidak terlalu memicu gejolak di pasar seperti halnya di tahun 2013 yang sering disebut taper tantrum. Kala itu, nilai tukar rupiah merosot sangat tajam. Sementara untuk tahun 2021, walaupun mengalami pelemahan namun masih dalam batas wajar.

Bisa dikatakan, The Fed sukses dalam meredam terjadinya taper tantrum.

Bank Indonesia pun menyebutkan pelemahan Rupiah yang terjadi hanyalah bersifat sementara saja dan para pelaku pasar tidak perlu khawatir berlebihan.

Baca juga: Personal Finance Advisor: Apa Saja Tugasnya dan 4 Tips Memilih yang Terbaik

IHSG dan SBN

Pada tanggal 4 November 2021, di pasar modal, IHSG ditutup naik 0,52% ke level 6.586,44 sampai akhir perdagangan. Dari data BEI mencatat, bahwa sebanyak 328 saham menguat, 191 saham melemah, 154 saham stanan.

Di pasar surat utang, harga mayoritas dari obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) kembali ditutup menguat setelah The Fed mengumumkan akan memberlakukan US Tapering di akhir bulan November 2021.

Investor pun kembali memburu untuk membeli SBN, ini ditandai dengan melemahnya imbal hasil (yield). Investor cenderung melepas SBN bertenor 25 dan 30 tahun dan mengalami penguatan yield.

Dilansir dari Refinitiv, yield SBN untuk tenor 25 tahun menguat 0,4 basis poin ke level 7,183%, tenor 30 tahun naik 0,2 bp ke level 6,828%. Tenor 10 tahun yang menjadi acuan dari obligasi negara menurun 0,3 bp ke level 6,225%.

FYI, yield itu berlawanan arah dari harga obligasi, jadi apabila terjadi penurunan angka yield maka harga obligasi tengah menguat, pun sebaliknya. Adapun satuan perhitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Kenaikan suku bunga

Salah satu dampak US Tapering terhadap perekonomian global adalah kenaikan suku bunga.

Ketika US Tapering dilakukan, maka pasar keuangan dari berbagai negara pun ikut merasakan dampaknya terutama bagi negara berkembang di mana pasar finansial didominasi oleh investor asing.

Jika US Tapering diberlakukan oleh The Fed, kebijakan ini akan diikuti oleh kenaikan suku bunga yang membuat sebagian besar investor asing lebih memilih untuk berinvestasi di Amerika Serikat karena dinilai bisa mendapatkan keuntungan yang legit.

Jika investor asing menarik diri dikhawatirkan bisa mengganggu stabilitas pasar keuangan dari negara berkembang yang bisa dikatakan masih sangat bergantung terhadap investor asing.

US Tapering: Pengertiannya dan 3 Persiapan yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghadapinya

3 Persiapan yang Perlu Dilakukan Menghadapi US Tapering oleh Investor Ritel

Evaluasi aset portofolio investasi

Saat ini pasar mulai bergerak ke arah positif, ini bisa dimanfaatkan oleh kamu sebagai investor dalam mencari peluang investasi terbaik sesuai profil risiko.

Evaluasi portofolio investasi tentunya perlu dilakukan minimal setahun sekali. Tujuannya agar bisa melihat apakah imbal hasil dari investasi sudah on track disesuaikan dengan tujuan keuangan yang ingin dicapai.

Tidak dipungkiri di awal pandemi, pasar cenderung bergerak volatil dan terkoreksi. Namun, kondisi sekarang ini sudah semakin membaik. Jadi, manfaatkan kondisi ini untuk evaluasi lagi ya.

Manfaatkan peluang di pasar obligasi dan saham

Di tahun ini, diprediksi negara akan mengeluarkan enam kali Obligasi Ritel Indonesia (ORI). So, kamu bisa manfaatkan ini untuk menambah portofolio atau yang ingin melakukan diversifikasi investasi bisa memilih jenis instrumen ini.

Obligasi negara termasuk investasi minim risiko, tenor yang pendek dan kamu bisa mendapatkan keuntungan dari kupon yang dibayarkan setiap bulan maupun capital gain jika dijual di pasar sekunder.

Dilansir dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga akhir tahun 2021, aktivitas perdagangan saham menunjukkan tren positif, ini bisa dilihat dari kinerja IHSG yang bergerak stabil dan cenderung meningkat jika dibandingkan triwulan III.

Bagi kamu yang ingin berinvestasi saham, mulailah belajar saham terlebih dulu untuk memahami seluk-beluk jenis investasi yang satu ini. Ingat saham termasuk jenis investasi high risk high return jadi kamu harus belajar analisa fundamental agar bisa menentukan strategi yang tepat dalam mengoleksi saham dan meminimalisir risiko yang akan terjadi di kemudian hari.

Berinvestasi sesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko

Berinvestasi adalah salah satu cara bagi kamu untuk mencapai financial independence atau mandiri secara finansial. Tak perlu ragu untuk memulai investasi karena sekarang ini perusahaan sekuritas sangat memudahkan kamu dalam berinvestasi. Bermodalkan uang Rp 50 ribu, kamu sudah bisa berinvestasi di reksa dana.

Namun, perlu diingat dalam berinvestasi kamu harus tahu dulu tujuan keuangan dan profil risiko kamu ya. Agar kamu bisa memilih instrumen investasi yang tepat dalam mencapai tujuan keuangan sesuai dengan profil risiko.

Baca juga: 8 Tanya Jawab tentang Investasi yang Sering Diajukan oleh Investor Pemula pada Pakar Investasi

US Tapering tidak menjadi hal menakutkan bagi para investor sekarang ini. Lakukan tiga hal di atas agar bisa menghadapinya. Dan jangan lelah untuk melakukan financial education ya agar kamu lebih paham tentang keputusan investasi, strategi dan risiko di dalamnya.

Let’s become financially independent dengan membership Ternak Uang selama 1 tahun! Learn, practice, one step at a time. Dengan menjadi member, kamu bisa mendapatkan 365 hari penuh untuk belajar berbagai tahapan menuju merdeka finansial. Termasuk di dalamnya boleh ikut di 100 sessions belajar keuangan bersama speakers yang sudah ahli di bidangnya, dan 2 big events! Tunggu apa lagi? Klik saja tombol di bawah ini, dan ikuti step by step-nya ya!

Bagikan Via

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp